Cerpen tentang Impian, persahabatan dan harapan (tugasIBD-4.4)


“Hidup ini berisi penuh dengan impian-impian, kita harus punya mimpi, kita harus punya mimpi yang tinggi,  kita harus berani bermimpi besar, tau kenapa??? Karena orang-orang besar diluar sana menjadi besar karena mimpi-mimpinya yang selalu besar…!!!
Salam Sukses dan Go….. Freedommm…..!!!!“

begitulah kata-kata lantang penuh semangat yang dikeluarkan Pak Adit sore itu menutup sebuah seminar pengembangan diri disebuah ruangan hotel kelas melati di akhiri dengan musik yang begitu menggema merasuk didada, sementara duduk dideret terdepan sekumpulan  anak-anak muda, bertampang penuh keyakinan sambil mengepalkan tangan dan meluncurkanya ke udara sembari berkoar keras

“Yesssss…..!!!!!! aku bisa………!!!!!!!.” 

Itulah Kasman seseorang  berbadan tegap bertampang oriental , sambil senyum tersipu seperti biasa yang menjadi ciri khas dirinya melirik kesebealah kanannya kesosok seorang berbadan kerempeng  Nanang namanya orang yang selalu menebarkan aroma semangat hidup yang tiada henti, katanya :

“ hidup adalah perjuangan…!!!”’

kemudian disamping nanang ada Sigit yang sejak selesai tadi tampak mengusap-usap matanya menggunakan jaket yang ia pegang ditangan kanannya matanya memerah seperti buah delima yang hampir matang berlinang air  mata, dan beberapa teman lain diantaranya Fitriono, Yugo, Ardi, Cahyadi, Riady, Syahrur dan beberapa yang perempuan Siti, Dani, dan Nanin dengan ekspresi mereka masing-masing, sementara aku berada dibelakang mereka semua tepat di belakang Sigit sembari mengamati teman-temanku semua satu persatu dari mereka, hatiku berdebar-debar jantungku benar-benar berdetak kencang sementara badan ini rasanya merinding aliran darah seolah mengalir deras didukung dengan suasana  ruangan yang menggema dan terdengar keras lagu “the power of dream”  benar-benar suasana yang luar biasa istimewa  yang kurasa, semangatku untuk hidup begitu menggebu rasa haru dalam hatiku telah memaksa air mataku menetes, terbesit dalam fikirku aku harus menjadi lebih baik lagi dari hidupku yang sekarang ini… begitulah sebuah keberhasilan dari seminar pengembangan diri yang begitu memancing emosi sore itu, orang-orang telah keluar sejak acara usai hanya kami yang berada di ruangan kami berkumpul bak seorang motivator terkenal si nanang nyletup :

“pokoknya saya harus sukses, kita harus sukses oke… nanti seandainya ada seminar semacam ini lagi, biar di Irian Jaya pun aku bakal jabanin…..”

Ternyata semangatnya telah menular kepada teman-teman lainnya, sambil memandang ku si nanang seolah ingin menunjukan inilah aku orang yang akan sukses suatu hari nanti, ku balas dengan senyuman agak terpaksa, aku bangga memiliki sahabat seperti dia penuh semangat dan selalu ingin menularkannya kepada orang-orang di sekitarnya. Baginya impian adalah nomor satu dalam hidupnya, tepatnya aku bangga dengan sahabat seperti mereka semua disaat anak-anak sekolah masih sibuk dengan main sepak bola, playstatiaon, geng-gengan motor setidaknya disini diruangan ini ada sekumpulan anak-anak muda yang sudah memikirkan masa depannya disela-sela kesibukan belajarnya, sepertinya kami ini memang sudah sehati dalam hal ini bahwa Indonesia akan menjadi Negara maju jika 10 % masyarakatnya  menjadi wirausahawan, tapi jelas yang lebih khusus bagi kami adalah ada sesuatu hal didunia ini yang begitu berharga yaitu “impian” impian kita untuk orang-orang yang kita cintai, impian yang akan menjadikan kita bernilai dimasyarakat, impian adalah segala-galanya dan setiap orang memiliki impiannya masing-masing yang jika kita menyebutkannya saja hati bergetar bahkan air mata pun tak sanggup terbendung ya itulah impian.
Hari ini sungguh hari yang melelahkan, langit tampak mendung sore ini langit berwarna oranye disinari matahari senja kami pulang menuju rumah masing –masing dari sejak keluar gedung hingga tadi diangkutan  kota aku hanya bisa memandang keluar jendela bus kota, kulihat hamparan sawah hijau disamping kanan kiri jalan, dedaunannya berombak terhembus angin sepoi senja sementara burung-burung bergerombol terbang mengangkasa, kenapa rasanya sungguh hening begini, teringat seseorang wanita tua yang rambutnya sudah memutih, senyumnya yang tulus penuh cinta dan kasih terus membayangiku dialah ibuku yang sangat kusayangi setiap kali aku mengingatnya meneteslah air mataku karena sejak kecil aku merasa benar-benar diajarkan kasih sayang dari beliau, juga sesekali teringat sesosok lelaki tua berkulit keriput  darinyalah kebijaksanaan-kebijaksanaanku lahir  beliau adalah penasehat yang sangat baik dan bijak banyak saudara-saudara yang meminta nasehat dari beliau dialah bapakku.

Sesampai kami dikost tak sabar rasanya untuk menyiram tubuh penuh keringat ini agar fres kembali, setelah sholat maghrib segeralah kurebahkan badan ini terlentang sambil menghela nafas panjang  aku terlelap tidur jauh ke dunia kapuk, kami bertiga bersama kasman dan sigit memang satu kost berbeda kamar dan ada beberapa teman kost lainnya, dengan satu ibu kost yang sudah sepuh biasanya kami panggil “simbah” kami sudah dianggap seperti cucu sendiri kadang jika ada jatah makanan dari hajatan tetangga kami selalu dibagi rata ya.. seperti ayam-ayam yang sedang diberi makan beras beramai-ramai bersuka cita kami memakannya, disitulah suasana kekeluargaan benar-benar terasa disaat kami semua jauh dari keluarga yang sbenarnya, inilah keluarga kami disini keluarga dari berbagai macam keluarga tapi kami menjadi satu dibawah asuhan si mbah yang disiplin, taat beribadah dan patuh karena dulunya si mbah muda memang selalu mendapat pendidikan militer dikarenakan bapaknya adalah seorang perwira dijaman kemerdekaan dulu.
kami kelas 3 di sebuah sekolah menengah kejuruan yang katanya terbaik dikabupaten Kebumen Jawa tengah bahkan sekolah kami beberapa kali menjadi peringkat satu provinsi, lulus 100% setiap tahunnya, ISO dan sudah SBI jadilah sekolah kami menjadi sekolah faforit pilihan masyarakat dari berbagai daerah. kebetulan kami bertiga satu kelas satu jurusan “teknik komputer dan jaringan” bermacam-macam alasan kenapa kami memilih jurusan komputer, dari mulai jaman telah modern jadi harus tau teknologi sampai alasan karena era globalisasi dan sebagainya. jika aku harus menceritakan alasanku maka kembali kenangan masa laluku di Smp waktu aku di sepelekan guru komputer karena kesulitan menggerakan mouse, begitu sakit rasanya waktu itu. Hingga dalam hatiku tumbuh keinginan “suatu saat aku akan menjadi ahli komputer”
hari ini hari selasa, hari yang Aku dan teman-teman tunggu karena hari ini ada pelajaran Kewirausahaan, kami begitu senang dengan pelajaran yang satu ini karena disini kita dapat dengan bebas mengungkapkan pendapat, berinteraksi dengan argument masing-masing dan menemukan solusi bersama. Akhirnya istirahat usai tepat jam 09.30 pagi, kini saatnya pelajaran Kewirausahaan dimulai murid-murid sudah tak sabar menunggu kedatangan sang guru yang humoris, Friendly dan sangat terbuka pak Beni namanya

“Good morning student…….” Pak Beni sambil jalan menuju meja di pojokan kelas

“Good morning sir….” Serempak dan penuh semangat,

“oke ” lets play…. Sekarang kita presentasikan topik “jenis usaha yang berpotensi”

“seperti biasa, kita bagi enam kelompok masing-masing enam orang…”

Begitulah perdebatan-perdebatan kecil dimulai sangat seru tidak ada nuansa ketegangan dikelas namun biar begitu keseriusan jelas terpancar dari wajah teman – teman semua. Akhirnya setelah berbagai perdebatan-perdebatan sengit, menegangkan saling lempar melempar argument dengan sengit  tetapi juga asyik dan menyenangkan kini tiba giliran kelompok 6 adalah kelompok ku, Kasman, Sigit, Riadi, Ridho dan syahrur, sudah menjadi kebiasaan apabila kelompok terakhir maju pasti akan paling seru karena berbagai pertanyaan yang disiapkan oleh kelompok lainnya semakin banyak, semakin berbobot dan sudah direncanakan matang-matang dan menyebalkannya biasanya pertanyaan-pertanyaannya hanya untuk pelampiasan semata agar kami tidak bisa menjawab dan akhirnya kami menanggung malu.
Giliran Ridho yang menyampaikan presentasi, ridho yang berbadan tinggi kurus maju dengan penuh kepercayaan dirinya yang tinggi, dan mulai presentasi…

“baik terimakasih atas waktunya, kami dari kelompok 6 memilih usaha ”Warnet” sebagai usaha berpotensi di daerah kita dan disaat ini, ada berbagai macam alasan yang menjadi landasan pokok kenapa usaha ini begitu berpotensi,diantaranya:
-     
Se  makin berkembangnya teknologi khusunya di bidang informasi
-      Diketahui pengguna internet semakin hari semakin bertambah pesat
-          Sudah menjadi kebutuhan masyarakat di jaman global seperti sekarang ini
-          Terutama jumlah pengguna pelajar yang memang tak bisa lepas dari dunia internet
Dan kenyataan bahwa sekarang ini kita justru mencari keberadaan warnet yang masih langka bahkan kita sering mengantri untuk mendapatkan akses internet, itulah yang menjadi dasar dari kelompok kami, jika dari teman-teman ada yang belum jelas silahkan kami buka pertanyaan…
Pak Beni mulai menggaruk-garuk dagunya, terlihat sedang memikirkan sesuatu atas presentasi kami barusan, sementara teman-teman sudah muai ribut menyiapkan pertanyaan bahkan terlihat sudah ada perwakilan dari dua kelompok yang langsung mengancungkan jari dengan ngototnya ya.. ada Yugo dan Rajab dua orang ini memang seorang kritisi yang handal dengan pertanyaan-pertanyaan yang selalu memojokkan…

“usaha ini bagus ya.. terlihat berpotensi, dimanakah kalian akan membangun usaha ini?” pertanyaan pembuka dari Yugo

Giliran Sigit menjawab “kami akan membangun tempat ini di lokasi yang setratgis seperti di dekat pasar, dekat dengan sekolah dan dekat dengan jalan raya…”

 “bisa diberitahukan lebih rinci lokasi tepatnya…” Yugo nyahut

“di pertigaan Sma Negeri…”

“oke, katakanlah usaha anda sudah berdiri berapa keuntungan yang bisa didapatkan dari usaha anda itu per bulannya?”

“6 sampai 8 juta dengan jumlah komputer 10 unit, dipotong listrik, Speedy ,gaji karyawan dan berbagai pengeluaran tak terduga lainnya pendapatan bersih antara 5 sampai 6 juta perbulan”

“pada kenyataannya dilapangan pasti tidakakan semudah itu, bagaimana kalau sepi pengunjung? Apalagi akhir-akhir ini listrik sering mati dan berbagai ancaman firus dan kerusakan perangkat-perangkat lainnya…” Yugo bertanya, dan keadaan mulai memanas…

“Ha.. ha iya betul itu… lalu bagaimana? Jika kendala itu terjadi? Apa langkah antisipasi anda???” Rajab menyusul bertanya, dengan senyumannya yang terbuka dan terlihat gigi depannya memang agak maju dan sesekali menyilaukan mata… terlihat ekspresi kebahagiaan diwajahnya saat kami mulai kesulitan menjawab pertanyaan itu..

“untuk yang sepi pengunjung,tentu kita selalu lakukan audit kita pergunakan penawaran-penawaran menarik seperti diskon khusus, model paket, kita pasang selebaran untuk meningkatkan jumlah pengunjung, untuk listrik mati mudah saja apa boleh buat… kita tunggu hidup saja.. Kasman sambil tersenyum,dan berbagai ancaman firus kita selalu siap sedia update anti firus…. He…he..” kasman menjawab dengan ekspresi santai dan percaya dirinya…

“Kurang puas…” Rajab memotong…

“kurangnya dimana mas..” sigit agak geram…

“jika semua usaha tadi sudah dilakukan tetapi tidak mendapatkan hasil yang maksimal bagaimana???”

“kami terus berusaha memaksimalkan…” kasman menjawab

“jika tak ada perubahan…??” Rajab sambil ngotot

“kami coba terus…” Ridho menjawab

“Eitss… sampai kapan coba-coba anda???” Yugo menyusul pertanyaan..

“kami akan coba pikirkan cara terjitu menghadapi segala kendala tersebut, jika hasilnya kurang maksimal kita gunakan cara lain yang lebih baik…” aku mencoba menjawab pertanyaan yugo itu…

Sementara Riadi dan Syahrur terdiam menyaksikan perdebatan seru ini… sambil sesekali tersenyum, dan dipojokan sana terlihat ada yang ingin bertanya lagi…
Begitulah perdebatan atau lebih bagusnya diskusi ini berlangsung terus hingga akhir pelajaran pukul 11.45, di lain kesempatan nanti kelompok kami pasti akan membalas kelompok Yugo dan Rajab tentunya dengan argument-argument yang masuk akal dan lebih panas agar mereka kesulitan dalam menjawabnya…
Besok minggu akan ada seminar Penuh motivasi lagi kali ini pembicaranya pak Mohammad mansyur, seorang yang Sukses beliau juga seorang kiyai jadi team dari semarang datang secara khusus untuk mengordinir acara ini agar penuh persiapan, berjalan lancar dan meriah, sementara kami adalah group team dari kebumen, memang kami ditunjuk sebagai tuan rumah dari Kebumen ini, persiapan kami sudah mulai dari tiga minggu yang lalu, dari menyebarkan undangan-undangan kepada teman – teman dan orang –orang semua kami usahakan sekuat dan sebisa kami karena kami tidak ingin hasilnya nanti mengecewakan, semakin kita mengundang banyak orang kita akan semakin berhasil karena itu adalah bentuk bagaimana kita mendapatkan relasi dalam dunia Bisnis. Kemudian di acara nanti semua audiens akan diberikan materi yang sangat berguna bagaimana caranya menjadi seorang Pengusaha yang Tangguh, kami diajarkan bersikap, bertindak dan berbagai macam kemampuan-kemampuan pendukung lainnya.
Hari ini hari jum’at acara Akbar itu tinggal dua hari lagi pembuktian saat-saat keberhasilan kami mereorganisir kegiatan akan terbukti di hari minggu nanti, untuk memantapkan kembali Pak Adit dari Semarang dan beberapa teman datang untuk memastikan semua persiapan telah siap, Pak Adit adalah seorang Pengusaha muda yang membiayai kuliahnya sendiri dan mendapatkan penghasilan sendiri dari usaha yang dirintisnya dan kami adalah partner dari Pak Adit , hari ini kita berkumpul di kos-kosan suasana ruang tamu kost penuh dengan anak-anak muda dengan jiwa-jiwa kewirausahaannya.ada sekitar 20 orang berkumpul acara semacam ini kita namakan sebagai DDM (Daily Development Metting) banyak sekali manfaat yang kami dapatkan dari mengikuti group ini, yang tidak pernah didapatkan disekolah manapun. Karena disini kita diajarkan bagaimana bersikap, bertindak dan berperilaku sebagai seorang wirausahawan sejati, kami diajari bagaimana orang-orang besar didunia ini bisa berhasil seperti Donal trump, bill gates, dan sebagainya. Kali ini Aku duduk didepan tepat dihadapan Pak Adit, hatiku kali ini berdebar-debar dag- dig-dug,  jantung memompa begitu kencang kenapa justru kulihat wajah teman-teman terlihat tegang, semoga ini tidak menjadi pertanda buruk, di sini memang akulah yang ditunjuk sebagai ketua group aku mulai merasa khwatir… sesekali Pak Adit memandang tepat mataku, matanya yang tajam bersinar seperti mata srigala itu seolah menanyakan hal besar padaku “ kesuksesan  acara kita nanti ada ditanganmu pa’ Han…”
 memulai dengan  perkataan Pak Adit :

“Assalammualaikum,,, salam sukses!!! Bagaimana kabar temen-temen yang luar biasa hari ini? Kalian semua adalah orang-orang yang luar biasa, bayangkan temen-temen disaat yang lain mereka sedang asyik-asyiknya tidur siang, bermain atau keluyuran ga jelas kalian berkumpul disini untuk belajar, merencanakan sesuatu yang nantinya bisa berguna untuk masa depan kalian sendiri…”

Sampailah pada pertanyaan :
“bagaimana ni pa’ Han Persiapannya?” (pak Adit memanggilku begitu, juga dengan semua dengan sebutan Pak’ )

“semua sudah saya usahakan sebisa kami pa’ dengan sekuat kami, gedung, proyektor sudah ready semua ada 350 kursi dan undangan sudah tersebar dari total 400 undangan semuanya sudah tidak tersisa sampai saat ini, insyaAlloh acara nanti berjalan lancar…” tatapan matanya membuatku gugup dalam menjawab, sebenarnya aku tau ada beberapa temanku yang belum habis menyebarkan undangan, aku hanya tak ingin membuat Pak Adit kecewa semoga yang aku lakukan ini tidak salah itu yang ada dalam benakku …

Waktu menunjukan pukul 04.00 sore Pak Adit dan beberapa rekannya harus segera kembali ke Semarang dan datang lagi hari Minggu tepat di acaranya nanti, setelah DDM ini pikiranku campur aduk tak jelas semangat, deg-degan, kwatir, bercampur… teman-teman lain segera lekas pulang kecuali Riadi yang tiba-tiba menghampiriku saat aku akan masuk ke kamar kost,

“co… co..” itulah nama panggilan teman-teman untukku

“eh.. Godi ada apa God” dan itu nama panggilan Riadi

“Ini…???  mungkin aku tidak bisa mengikuti Acara minggu besok…”
sambil mengacungkan lembaran undangan ditangannya, yang harusnya undangan itu sudah disebarkan ke calon-calon audiens, aku melihatnya dengan penuh tanda Tanya kemudian ku memandang matanya menatapku dengan pandangan kosong…

“sini masuk…” aku mempersilahkan masuk ke kamar kostku

“ada apa God? ”

“aku tidak bisa ikut besok minggu”
hatiku seperti tersambar petir di siang bolong mendengarnya..

“aku sudah capek dengan semua ini co… aku pengin sendiri aja menentukan hidupku sebebasku…”

“apa selama ini kamu merasa tertekan God..?”

“aku ini masih sekolah co, aku pengin menikmati masa-masa sekolahku tanpa harus ikut metting-metting tanpa harus ikut seminar-seminar aku ingin seperti anak-anak yang lain, yang bebas bermain….”

 “begitu tersiksanya yang kamu alami ini God… maafkan aku selama ini sudah mengajakmu masuk kedalam group pengusaha ini, jika itu yang kamu alami tentu aku tidak ingin mengajakmu masuk sejauh ini… kenapa kamu baru ungkapkan sekarang…”

“aku ga enak sama kamu co… kamu teman baikku aku juga tidak ingin mengecewakan kamu co… tapi sekarang aku memang sudah,,,… ga tau lah co aku juga bingung…”

“pasti ada hal lain yang membuatmu mengambil keputusan ini God… ”

“sebenarnya orang tuaku juga tak mengizinkan aku ikutan Group pengusaha ini, karena besok setelah kita lulus kewajiban kita adalah bekerja menjadi karyawan bukan pengusaha…”

“God…” 
hatiku perih rasanya mataku memerah dan meneteskan air mata aku menjabat tangan Godi dan merangkulnya…

“God… apapun yang terjadi kita tetap sahabat, seperti dulu kita bermain bersama seru-seruan bersama, becanda tawa bersama… dengan penuh kegembiraan… kamu sahabat baikku God”

“terimakasih co…”

“sudah sore God… nanti kamu tidak ada angkutan lagi…”

“aku pulang ya co….”

Aku mengantarnya sampai halaman kost, kekecewaan jelas ku alami setelah sekian lamanya kebersamaan kita di Group ini kenapa saat-saat seperti ini Godi sahabat dekatku sendiri justru orang yang hampir mematahkan semangatku, malam ini sulit sekali rasanya untuk tidur waktu acara hari minggu tinggal satu hari lagi, ku harap hal-hal seperti ini tidak terjadi lagi pada ku dan Group ini,
Pagi-pagi Nanang datang ke kost dengan motor butut CB tahun 70 an suara kenalpotnya begitu terdengar keras dan begitu menggema disusul kebulan-kebulan asap kenalpotnya yang hitam pekat baunya pun sangat menyengat…

“Ayo pa’ han…. Berangkat…”

“pagi bener nang…”

“harus donk sekarang adalah hari terakhir kita menuju pembuktian besok, anda leader kami pa’ han… ayo bantu saya mengundang orang untuk datang ke acara kita besok…semangat pa’ semangat!!!!”
Nanang, dengan semangatnya itu telah membakar semangatku…

“ayo…!!!!”

Jadilah kita berangkat dengan motor CB merah itu, walaupun aku sudah mandi dan memakai parfum yang wanginya 7 kembang 7 rupa tetap saja akhirnya badanku berbau kenalpot juga.hari terakhir ini aku infokan kepada semua teman-teman untuk memaksimalkan usahanya masing-masing kuharap sedang berjuang seperti perjuanganku dengan Nanang yang muter-muter naik turun dan melewati jalan berliku untuk mengundang para peserta seminar besok, tugas mengundang ini tidak semudah yang dibayangkan sering kami menerima berbagai penolakan, dengan berbagai alasan, bisa jadi undangan telah tersebar habis tetapi orangnya tidak datang begitulah suka dukanya kadang motor kami macet karena motor yang kondisinya memang sudah tua.
Ditengah perjalanan kami berangkat kami bertemu syahrur sedang berboncengan dengan seorang gadis mungkinkah itu pacarnya, dari pakaiannya sepertinya mereka mau jalan-jalan, semoga saja Syahrur tidak lupa dengan acara besok, apakah Syahrur sudah menyebarkan undangan-undangannya, itu yang ada dalam benakku.
 Jam sudah menunjukan pukul 15.00 WIB  kini saatnya perjalanan pulang, rasanya letih sekali badan bermandikan keringat seharian terkena sinar matahari bahkan sesore ini matahari pun masih terasa panasnya mata ini pun sesekali terpejam karna begitu tak kuatnya ku tahan kantuk  ingin ku segera mandi dan istirahat dengan segera…, tepat jam 5 sore kami sampai di kos-kosan didepan kost terlihat seseorang duduk di kursi kayu sambil memandangi kami sementara kulihat kearah pohon mangga didepan kost tersandar sepeda balap yang cat nya sudah memudar namun ruji-ruji dan peleknya begitu mengkilap itu sepedanya ardi, sepeda yang selalu menemaninya dalam setiap perjuangan-perjuangannya. dia terus memandangi kami yang baru tiba, setelah nanang menstandarkan motornya kami mendekat ternyatabenar  itu teman kami Ardi,

“halo di… udah lama?”
ku Tanya dia sambil ku membuka jaket, ku jabat tangannya begitu dingin tangannya…

“gimana kabar di.. ini ngomong-ngomong mau pulang ke gunung apa?”
Ardi hanya bias tersenyum dengan sedikit terlihat giginya begitu Nampak itu adalah sebuah senyuman yang terpaksa. Ku merasa jika sedang ada sesuatu yang disembunyikannya dan kurasa ini ada hubungannya dengan acara besok.

“ada apa di?”
ku awali dengan sebuah pertanyaan sambil ku merangkul pundaknya ku lanjutkan duduk disampingnya.

“langsung aja co’ besok ku ngga datang co…”

“tiba-tiba gitu di, ada apa sebenarnya? ”

“Jangan bercanda sampean di…” Nanang kaget mendengar jawaban Ardi, dan agak menaikan nada bicaranya,

“intinya besok aku tidak akan datang ke acara-acara kaya gitu lagi, maaf aku capek, aku udah bosen, ”

“apa maksudmu di? Ku mengharapkan kita bisa sama-sama hadir bersama anggota team semua.. dan kita menunjukan kesuksesan kita Pada orang-orang pada Pak Adit dan Pada Pak Mohamad Mansyur..”

“Di ingat impian kita di, ingat impian kamu… ingat perjuangan kita selama ini…” Nanang menambahkan.

“Jangan bicarakan Impian didepanku lagi!!!, bawa impian kalian sendiri aku tidak ikutan..

“impian itu Bohong..!!!”

“ impian itu Palsu…!!!”

“ Aku tidak percaya Impian yang selama ini kita Pelajari”,
Bulsyet itu semua…!!!”

Perkataan Ardi itu yang penuh emosi, dengan mulut nya yang berkoar keras, tapi dia tidak berani memandang mataku... Hatiku serasa terhiris, begitu sakit kurasakan kenyataan ini… Kurangkul pundaknya sambil mengusap-usap pundaknya, dan memang Ardi tetap menunduk tak berani memandang mataku kemudian Nanang ikut merangkul Ardi, sore itu sungguh sore yang hampir-hampir merobek hatiku rasanya, keadaan badanku yang sedang letih dan lelah yang seharusnya ku langsung istirahat.. harus dipaksakan merasakan letih dan lelahnya hati pula…
Minggu kini telah menghampiri, telah kupasang Alarm pukul 05.00 Wib kumulai pagi ini dengan menghela nafas panjang, hati berdebar- debar jantungku berdetak kencang, setelah sebulan ini ku berusaha mencurahkan pikiran dan tenaga untuk acara hari ini,

“Ya Alloh Semoga semua usaha yang telah kami udsahakan tidak mangahasilkan kekecewaan ” sudah terlalu lelah rasanya apa yang telah ku alami akhir-akhir ini”.

Kami sepakat untuk bertemu di tempat seminar nanti, acara dimulai pukul 09.00 pagi sementara jam 08.00 ku sudan standby disana.ku merasakan aroma ruangan ini ku pejamkan mata dan terbayangkan sorak- sorai ramainya ruangan ini nanti begitu antusiasnya para audiens, sama seperti seminar-seminar pengembangan diri lainnya yang megah dan meriah. Ya ,, semoga saja. Dan ku harapkan lebih dari itu karena ku merasa usaha kami ini sudah mati-matian jadi hasilnya pasti akan lebih baik lagi. Ku tersadar saat ada audiens yang datang, ku duduk dikursi samping pintu masuk penuh dengan rasa pengharapan, waktu kian berlalu ku tertunduk lesu kulihat jam dipojok ruangan kini waktu telah menunjukan pukul 09.10Wib tetapi audiens hanya beberapa yang datang, dari sepuluh deret kursi hanya terisi dua deret dan jumlah audiens bisa dihitung dari target 350 yang hadir hanya sekitar 80’an orang ditambah dengan teman-teman pun sebagai panitia kini ruangan terisi tidak lebih dari 100 orang, sementara pak Adit yang baru saja tiba mengisyaratkan agar acara segera dimulai waktu sudah melebihi batas, dan pak Muhamad sudah datang dengan Mercedes’nya yang mengkilap dan terlihat sangat mewah, itu adalah mobil hasil kerja kerasnya selama ini dan beliau siap membagi tips-tips suksesnya, aku takutsekali pasti beliau kecewa padaku… akhirnya acara dimulai pukul 09.30 Wib, sementara Nanang yang datangnya belakangan mengajakku untuk duduk didepan bersama teman-teman,

“Engga Nang silahkan duluan aku disini dulu…”

“Tetap semangat Co…”

“Pasti…”

memang ku tak bisa sembunyikan wajah kekecewaan yang dalam ini, selama acara dimulai ku hanya termenung memiirkan kembali tentang “Impian” inilah sebuah proses, yang penting bukanlah hasil, tapi proses. biarpun ku tau kata- kata itu tapi tetap hatiku belum sanggup untuk menerima kenyataan ini…
tak terasa acara telah selesai, Pak Mohamad buru-buru melanjutkan perjalanan bersama rombongan karena beliau akan mengisi acara lagi di lain kota. Padahal sejakawal ku sudah berencana untuk berfoto bersamanya karena suatu kebanggaan tersendiri bila bisa berfoto dengan Pengusaha Sukses seperti pak Mohamad. akan tetapi sekarang bahkan ku malu untuk memandangnya. sebelum meninggalkan ruangan seperti biasa kami briefing dulu semua anggota team atau panitia berkumpul melingkar jadi satu, Pak Adit seperti biasa memberikan kami semua motivasi. Ku hanya mendengar kata-kata dengan jelas setelah Pak Adit mengencangkan nada bicaranya, karena dari tadi aku hanya berdiri dan melihat dengan tatapan kosong.

 “ dalam hidup ini yang penting proses, apa yang telah teman-teman lakukan hari sudah baik, yang paling penting teman-teman sudah berusaha sekuat tenaga dan sebaik mungkin untuk berjalannya acara ini, kita tunjukan untuk yang berikutnya pasti akan lebih baik lagi…..!!!! OK….. !!!

Setelah semua orang meninggalkan ruangan, ku masih tetap tertunduk lesu duduk berdiam diri… otak ini berfikir, jantung ini memeompa semakin kencang kemudian pak Adit menghampiriku dengan senyumannya yg khas itu…

“Kenapa Pa’ Han? Kenapa lesu…?”

“tidak kenapa-kena Pak…” ku tersenyum agak terpaksa…

“Pa Han kadang dalam hidup ini apa yang kita lakukan, apa yang kita usahakan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, karena ini proses yang harus kita lewati… saya yakin Pa Han dengan kerja keras, kesungguhan, loyalitas didukung team yang solid kita pasti berhasil. Pa Han ingat Dream Book yang telah Pa Han buat itu, itulah sumber kekuatan kita… kita berjuang untuk orang-orang yang kita cintai,,, ”

ku mulai tersenyum haru mendengar perkataan Pak Adit,  rasanya badan ini sungguh letih setelah acara ini selesai segera pulang kembali ke kost. Langsung kurebahkan tubuhku di kasur yang empuk itu… sambil menatap langit-langit kamar,

“oh iya… Dream Book ku….??”

Ku ambil sebuah buku, berbentuk album bercover hitam… dug..dug..dug,  itulah bunyi jantungku saat kucoba membuka lembar pertama, ya… Dream Book adalah sebuah buku impian berisi tentang harapan-harapan yang kita ingin capai dalam hidup kita, berisi tentang Visi dan Misi kita… dan itu adalah kekuatan kita menjalani kehidupan  ini, Dream Book yang berisi apa yang ingin kita capai dan kita menentukan batas waktu kita ingin mencapainya, karena kata pak Adit :

“ingat hidup kita harus punya impian, dan impian itu harus Tervisualisasi (digambarkan), agar kita selalu ingat dengan impian kita, dan kita beri batas waktu agar kita bersungguh-sungguh dalam mencapainya… seperti orang-orang besar didunia ini kenapa mereka bisa berhasil dan mencapai apa yang mereka inginkan, karena ternyata mereka memiliki buku impian yang selalu dilihatnya dan selalu di afirmasikannya setiap saat…, saat mereka jatuh mereka kembali membuka buku impiannya,,, begitulah betapa pentingnya impian dan Dream Book itu… ”

Dalam Dream Book ku, lembar pertama terpampang sebuah kata-kata yang telah aku tulis saat aku pertama bergabung di Group Wirausaha ini yaitu “aku berjuang untuk orang-orang yang aku cintai, aku hanyalah alat untuk kebahagiaan keluargaku…”  dan masih banyak kata-kata lainnya, dalam sekian banyak gambar-gambar dalam Dream Book ku itu, ada satu yang jika ku melihatnya selalu terharu dan bahkan meneteskan air mata, itu adalah gambar Ka’bah yang dikelilingi jutaan umat islam, ibu pernah berkata :

“Nak,, ibu ingin bisa berangkat Haji suatu saat nanti, kita berangkat bersama pergi haji ya nak… ”
Sementara aku hanya bisa menjawab “ Amin… InsyaAlloh bu,,,” sejak ibu berkata seperti itu beban berat benar-benar telah ada dipundaku. Dan di Dream Book ku itu tertulis batas waktunya pada 20 Juni 2017. Itulah waktu saat aku dan ibu berangkat haji bersama….

“Ya Alloh Berikanlah hambamu ini kemampuan dan peran untuk mewujudkan keinginan ibuku itu, dan berikanlah hambamu ini peran untuk membahagiakan orang-orang yang aku sayangi….”
……………………………………………………………………………………………………

Kisah ini di ilhami dari “KISAH NYATA”.  thangks to : Semua sahabatku yang telah “BERJUANG” bersama: SIGIT, KASMAN,NANANG, ARDI, CAHYADI, FITRIONO, RIADIANSYAH, SYAHRUR, YUGO, DANY dan semua anggota group yang berjumlah 21 orang. Spesial to : Pa’ Adit (Undip) Pa’ Agam dan Pa’ Cahyo (Unes) terimakasih Pa’ atas semua ilmunya kini pribadi kami jauh lebih baik dari sebelumnya, dan kini kami telah menjadi orang yang patut diperhitungkan . Aku bangga mengenal kalian, perjuangan kita tak akan sia-sia. Seperti yang dulu pernah kita pelajari “Alloh tidak akan melupakan perjuangan hamba-hambanya” selamat menempuh hidup kalian masing-masing sahabatku..semoga kalian tidak melupakannya,, aku harap impian-impian dalam Dream Book kita masing-masing akan terwujud…. Amin. Salam sukses dan Go….. FREEDOM……!!!!!!!!!!!!

Post a Comment